Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Rabu, Juli 16, 2008

Beginilah Jika Bersaudara

Dua orang bersaudara bekerja bersama menggarap lading milik keluarga mereka. Yang seorang, si kakak, telah menikah dan memiliki keluarga yang cukup besar. Si adik masih lajang dan berencana tidak menikah. Ketika musim panen tiba, mereka selalu membagi hasil sama rata. Selalu begitu.

Pada suatu hari, si adik yang masih lajang itu berpikir “Tidaklah adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit”. Maka demi si kakak, setiap malam, dia akan mengambil sekarung padi miliknya, dan dengan diam-diam, meletakkan karung itu di lumbung milik kakaknya Sekarung itu ia anggap cukuplah untuk mengurangi beban si kakak dan keluarganya.

Sementara itu, si kakak yang telah menikah pun merasa gelisah akan nasib adiknya. Ia berpikir “Tidak adil jika kami selalu membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan mampu merawatku kelak ketika tua. Sedangkan adikku, tak punya siapa-siapa, tak akan ada yang peduli jika nanti dia tua dan miskin. Ia berhak mendapatkan hasil lebih daripada aku”.

Karena itu setiap malam, secara diam-diam, ia pun mengambil sekarung padi dari lumbungnya dan memasukkannya ke lumbung milik adik satu-satunya itu. Ia berharap, satu karung itu dapatlah mengurangi beban adiknya kelak.

Begitulah, selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu saling menyimpan rahasia. Sementara padi di lumbung keduanya tak pernah berubah jumlah. Sampai…, suatu malam, keduanya bertemu, ketika sedang memindahkan satu karung ke masing-masing lumbung saudaranya.

Di saat itulah mereka sadar dan saling menangis, berpelukan. Mereka tahu, dalam diam, ada cinta yang sangat dalam yang selama ini menjaga persaudaraan mereka. Ada harta yang justru menjadi perekat cinta bukan perusak. Demikianlah jika bersaudara.


Sumber : Buletin Dakwah MADANI, 23 Jumadil Tsaniyah 1429 H / 23 Juni 2008

Kamis, Juni 19, 2008

Meninggal Tanpa Merepotkan

Hari ini saya pergi melayat ke tempat sahabat saya yang bapaknya telah kembali menghadap kepada Allah SWT. Tepatnya di sebelah barat Masjid (Pasar Tegalgondo) Delanggu, Klaten. Perjalanan dari kantor memakan waktu kira-kira 40 menit pergi-pulang.

Bapak sahabat saya menghadap Allah dalam kondisi tidak sadar setelah berada di ruang ICU rumah sakit Kasih Ibu sejak Rabu siang. Menurut cerita sahabat saya diawali masuk angin pada hari Minggu kemudian kondisinya selalu melemah, hingga Rabu pagi terjatuh pada saat perjalanan solat subuh dan kemudian dibantu tetangga diantar kerumah.

Beliau mengidap penyakit Hernia (Jawa : Ketedun) yang sudah cukup lama namun tidak bersedia di operasi. Menurut dokter apabila masih muda dan segera dioperasi harapan hidupnya bisa lebih panjang.

Proses kematian yang singkat, tidak perlu menderita sakit cukup lama menurut saya adalah sesuatu yang patut diharapkan orang, plus tidak perlu merepotkan banyak orang. Apalagi harus berbulan-bulan menjalani terapi. Saya jadi berpikir mungkin ada amalan yang seharusnya kita kerjakan yang dapat menolong kita dalam mempermudah dalam proses kematian.

Saya jadi teringat ucapan Butet Kertardjasa tentang cita-citanya dalam menghadapi kematian, dalam sebuah infotainment dia mengatakan dia ingin meninggal dengan proses singkat dan jangan sampai merepotkan yang masih hidup.

Cita-cita yang pantas kita renungkan bersama.

Rabu, Juni 11, 2008

Hadits Nabi dan Negroponte

Hadits Nabi mengatakan sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat buat orang lain. Berarti kita sebagai umatnya sebenarnya sudah diminta sejak dulu untuk berbuat yang terbaik kepada semua umat.

Saya tidak tahu apakah Prof Nicholas Negroponte mengetahui hadits ini atau tidak.

Menurut Kantor Berita ANTARA Negroponte adalah pendiri lembaga nirlaba "One Laptop Per Child" (OLPC) yang mengembangkan laptop super murah dengan harga hanya 100 dolar per unit, atau kurang dari Rp 1 juta.

Inovasi laptop ini bertujuan mengusahakan penggunaan komputer dalam dunia pendidikan bagi anak-anak di negara-negara miskin di dunia. Negara yang sudah menggunakannya yaitu Uruguay dan Nigeria, yang segera menyusul adalah Kolumbia.

Saya kira ini adalah sebuah cita-cita dan tindakan yang sangat nyata dengan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Bagaimana dengan kita? Seberapa banyak hal yang sudah kita berikan kepada semua umat?

Marilah menjadi bahan kontemplasi kita semua. Bravo untuk Negroponte.

Sabtu, Mei 31, 2008

Azan dan Syafaat Kanjeng Nabi

Ternyata tidak perlu yang berat-berat dalam beribadah, dengan diam dan menyimak kemudian mengikuti apa yang diucapkan muadzin niscaya akan mendapatkan syafaat dari kanjeng Nabi Muhammad. Tetapi diam saja juga tidak mudah apalagi untuk orang yang punya segudang kesibukan. Agama memberikan pilihan kepada manusia dan manusialah yang harus menentukan.

Janji syafaat dari kanjeng Nabi dapat disimak di bawah ini:

“Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian memohonlah al-wasilah (kedudukan tinggi) kepada Allah untukku karena itu adalah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap aku adalah hamba tersebut, barangsiapa memohon al-wasilah untukku niscaya dia (berhak) mendapatkan syafaat.”

(HR Muslim 2/327)

Jumat, Mei 30, 2008

Buletin Jumat Banyak Iklannya

Seperti biasa setiap setelah solat di suatu masjid mata saya selalu tertuju pada pojok masjid untuk melihat apakah ada Buletin Jumat yang biasanya selalu tersedia dalam jumlah terbatas.

Isi atau konten dari tiap Buletin yang berbeda menurut saya akan menjadi referensi ajaran islam yang penting buat saya sebagai orang awam dalam agama. Beberapa isi yang sering dihadirkan adalah sejarah nabi, perilaku teladan dari para sahabat nabi dan ulama-ulama yang tawadhu’, yang tidak ketinggalan adalah kaidah Fiqh dan Hadits.

Rata-rata seluruh buletin menampilkan isi yang menarik dan bermanfaat, ada alamat redaksi serta struktur penanggung jawab penerbitan, juga ruang tempat pemasangan iklan (mungkin untuk menjaga keberlangsungan penerbitan).

Namun pernah di suatu masjid saya mendapatkan Buletin Jumat terbitan bulan Mei 2008 yang “tampil beda”, karena saya tidak menemukan alamat redaksi dan struktur penanggungjawabnya dan yang lebih membedakan porsi ruang iklannya lebih besar daripada isinya, kira-kira ¾ iklan dan ¼ isi.

Secara umum buletin jumat berisi hal-hal yang menyangkut informasi agama. Kalaupun ada ruang iklan itu mestinya hanya pendukung saja karena buletin jumat bukanlah institusi bisnis industri penerbitan yang bergantung dari iklan.

Apabila porsi iklan lebih besar dari konten dan tidak ada alamat redaksi, saya kira ini telah menyimpang dari garis logika secara umum. Meski niatnya baik untuk menyampaikan informasi agama tetapi dengan porsi iklan yang lebih besar seolah-olah telah nampak unsur bisnisnya lebih diutamakan daripada kontennya.

Apabila memang ingin memperkenalkan suatu produk, ada beberapa cara yang sudah berlaku umum dipakai oleh pelaku bisnis, bisa lewat brosur yang dititipkan pada agen koran, leafleat kepada sasaran yang dituju, atau bahkan lewat media online dengan membuat situs atau blog sendiri.

Saya kira itu jauh lebih elegan.

Sabtu, Mei 17, 2008

Wasiat Hasan Al Basri

Kesibukan kita tidak pernah ada habisnya. Beragam kegiatan dengan motif apapun sering membuat kita terlena akan pengisian rohani.

Pekerjaan kantor yang tidak pernah ada habisnya, organisasi-organisasi yang kita menjadi pengurusnya, urusan anak-anak, relasi dengan keluarga dan lain sebagainya, semuanya kadang menjadi alasan yang tidak pernah ada habisnya kita ucapkan.

Hidup cuma sebentar, bahkan mung mampir ngombe kata orang Jawa, tidak selayaknya kita sia-siakan.

Sungguh pas nasehat Hasan Al Basri berikut ini, buat saya pribadi dan juga buat pembaca blog ini.


Aku tahu rizkiku tak mungkin diambil orang lain. Karenanya hatiku tenang.
Aku tahu amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain. Maka aku sibukkan diriku untuk beramal.

Aku tahu Allah selalu melihatku. Karenanya aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat.

Aku tahu kematian menantiku. Maka kupersiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabbku